Tangkal Hoaks di Era Digital dengan Strategi ABG

by | #KokoFYI | 0 comments

Digitalisasi banyak mengubah tatanan proses yang dulunya lambat menjadi cepat dalam hal distribusi dan konsumsi. Beberapa contoh diantaranya adalah hadirnya e-book yang merambah para pecinta buku, situs untuk streaming musik, platform untuk bermain permainan online yang menggantikan permainan konsol, situs penyedia tiket elektronik, dan situs berita yang menggantikan peran koran cetak secara perlahan. Produk digital tersebut hadir untuk melayani kebutuhan pelanggan agar lebih mudah dijangkau. Produk ini juga semakin dimudahkan dengan perkembangan internet di Indonesia yang semakin tinggi tiap tahunnya. Berdasarkan laporan Hootsuite Inc yang berjudul The Global State of Digital in 2019 Report menyatakan bahwa petumbuhan internet di Indonesia naik 13 persen yaitu sebanyak 17.300.000 pengguna dibandingkan tahun sebelumnya [1].

Perkembangan internet yang diikuti tren digital ternyata juga diikuti dengan dampak negatif. Salah satunya adalah jumlah penyebaran berita bohong (hoaks) di media sosial semakin lama semakin bertambah. Terbukti pada bulan Januari 2019, jumlah isu hoaks mengalahkan angka total hoaks selama tahun 2018 [2]. Hal ini diperkuat juga dengan pernyataan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara tentang adanya 900 ribu situs penyebar hoaks termasuk pornografi, penipuan, perjudian, serta situs lainnya [3]. Tak hanya itu, pergelaran pemilihan wakil rakyat pun juga diramaikan dengan hoaks. Sebulan sebelum pemilihan umum pun sudah terdeteksi 453 berita hoaks oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia [4]. Era digital memang membawa perubahan yang baik namun juga membawa dampak yang negatif apabila tidak mampu dikendalikan.

Ilustrasi 1 - Ancaman hoaks di Indonesia

Hoaks mudah sekali meracuni masyarakat karena arus globalisasi yang sangat pesat, pergeseran pola perilaku, dan kurang sadarnya masyarakat akan dampak negatif tersebut. Arus globalisasi yang pesat membuat segala informasi masuk dan keluar dengan cepat. Hal ini menyulitkan pengawasan pemerintah dan orang tua karena hal informasi negatif dapat menjelma menjadi apapun, salah satunya adalah iklan. Iklan ini bisa hadir dimanapun misalnya pada media sosial, permainan online, berita online, bahkan situs kesayangan kita lainnya. Pergeseran pola perilaku juga turut andil karena rendahnya minat baca masyarakat. Mereka hanya mengandalkan rasa percaya lalu membagikan informasi negatif tersebut tanpa melihat dampaknya.

Disamping itu, bonus demografi jangka panjang yang dimiliki Indonesia adalah penduduk usia produktif. Mereka merupakan pemuda yang siap menyokong pembangunan serta kepemimpinan nasional. Impian ini akan surut apabila kita tidak dapat membentengi pemuda dengan strategi yang tepat agar terhindar dari hoaks.

Ilustrasi 2 - Strategi ABG untuk menangkal hoaks

Berbagai langkah dapat dilakukan untuk menyongsong semangat kemerdekaan dan persatuan melawan hoaks dengan menerapkan strategi ABG, yaitu sebagai berikut:

Asosiasi

Asosiasi atau perkumpulan dapat menjadi strategi yang tepat untuk memfasilitasi pemuda dan masyarakat untuk berkumpul. Kunci dari sebuah hubungan harmonis adalah komunikasi. Salah satu langkah yang tepat adalah membentuk diskusi anti hoaks dan diskusi lintas suku, agama, ras, budaya serta partai politik. Dengan fasilitas diskusi tersebut, kita dapat mengetahui informasi asli tanpa dibumbui hoaks. Lanjutnya, diskusi anti hoaks juga bisa diadakan agar masyarakat mampu menangkal hoaks dari diri sendiri hingga lingkungan yang lebih besar.

Budaya

Masyarakat Indonesia pada dasarnya memiliki toleransi yang sangat tinggi. Dimulai dari masa penjajahan, para pahlawan berasal dari berbagai latar belakang budaya yang unik. Kemerdekaan berhasil digapai dengan naungan Bhinneka Tunggal Ika. Sebagai generasi muda seharusnya kita selalu menjaga amanat ini untuk melestarikan budaya dan persatuan. Apabila ada berita negatif, hendaknya kita bertanya kepada pihak yang terkait agar mengurangi perdebatan dan tidak larut dimanfaatkan pihak yang memprovokasi.

Government (Pemerintah)

Pemerintah sebagai pemilik kebijakan juga harus ikut melawan peredaran hoaks. Pemerintah juga harus netral dalam menghadapi sebuah permasalahan agar tidak merugikan yang lainnya. Tak hanya itu, penanaman karakter juga penting dilakukan demi suksesnya pembangunan dan kepemimpinan nasional kedepan. Langkah ini dapat direalisasian dengan program literasi digital. Literasi digital adalah kemampuan untuk menggunakan informasi yang sangat luas dari perangkat digital (komputer, telepon pintar, dan lainnya) [5]. Literasi digital ini juga sama pentingnya dengan kemampuan membaca, menulis, ataupun berhitung. Hal ini bisa mulai ditanamkan dari keluarga, masyarakat, dan tingkat sekolah. Bahan bacaan literasi digital dan pelatihan yang aplikatif disemua tingkat perlu digalakkan sehingga dapat meningkatkan pemahaman terkait penggunaan internet dan UU ITE.

Ilustrasi 3 - Karakter yang penting untuk ditanamkan

Strategi ABG ini bisa menyokong penanaman karakter di generasi muda maupun diatasnya. Dengan demikian outcome dari strategi ini dapat menghasilkan generasi dengan ciri khas sebagai berikut:

Open minded

Generasi yang berpikiran terbuka mampu menerima kritikan dan saran untuk dirinya. Hal ini dapat dilihat ketika kita berani belajar hal baru dan menyingkirkan ego. Apabila kita tidak mau menerima kritik, maka sama saja seperti katak dalam tempurung. Sebaliknya, kritikan akan membangun diri kita menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Damai

Semangat kemerdekaan ditengah hiruk pikuk perbedaan hendaknya disikapi dengan kedamaian. Damai adalah tujuan dari bangsa Indonesia dengan Bhinneka Tunggal Ika-nya. Kedamaian akan membuat kita harmonis demi menciptakan keamanan dan stabilitas bangsa. Jelas hal ini layak untuk diperjuangkan demi menyukseskan pembangunan bangsa mulai dari jangka pendek (5 tahun kedepan).

Kolaboratif

Masyarakat Indonesia, terutama generasi muda yang mempunyai karakter open minded dan cinta damai tentu akan suka berkolaborasi. Semangat kolaborasi sebenarnya sudah dicontohnya pahlawan kita dengan gotong royong dan bekerja sama melawan penjajah. Apabila kita ingin mencetak bangsa di masa depan, tentu harus memikirkan di strategi lima tahun kedepan terlebih dahulu. Kepemimpinan nasional akan lebih mudah tercapai dengan optimis apabila masyarakatnya kolaboratif.

Penutup

Dengan strategi ABG dan metode saring informasi tersebut harapannya dapat mengurangi peredaran hoaks di masyarakat. Hoaks dapat berbahaya untuk diri kita apabila kita menyebarkannya juga merugikan pihak terkait. Penanaman karakter juga penting dilakukan demi suksesnya pembangunan dan kepemimpinan nasional kedepan.

Yuk, perangi berita bohong (hoaks) di era digital ini demi suksesnya pembangunan dan kepemimpinan nasional kedepan
Kalau hoaks tidak disaring mulai dari diri sendiri, lalu oleh siapa lagi?

Sumber Referensi

[1]      Hootsuite Inc, “The Global State of Digital in 2019 Report,” p. 221, 2019.

[2]      R. Novianto, “Kominfo: Hoaks Sebulan Ini Lebih Banyak dari Hoaks Selama 2018,” 2019. [Online]. Available:https://kbr.id/nasional/02-2019/kominfo__hoaks_sebulan_ini_lebih_banyak_dari_hoaks_selama_2018/98813.html. [Accessed: 25-Apr-2019].

[3]      J. Demon Fajri, “Menkominfo: Ada 900 Ribu Situs Penyebar Informasi Hoaks,” 2019. [Online]. Available: https://news.okezone.com/read/2019/02/14/337/2018062/menkominfo-ada-900-ribu-situs-penyebar-informasi-hoaks. [Accessed: 25-Apr-2019].

[4]      Tim Internet Sehat, “Hoaks Semakin Ganas, Ada 453 Hoaks Sepanjang Maret 2019,” 2019. [Online]. Available: http://internetsehat.id/2019/04/hoaks-semakin-ganas-ada-453-hoaks-sepanjang-maret-2019/. [Accessed: 25-Apr-2019].

[5]      P. Gilster and P. Glister, Digital literacy. Wiley Computer Pub. New York, 1997.

 

#1 Selamat Datang

Halo! Selamat datang di blog Kokosten. Semoga info di blog ini dapat membantu kalian semua ya! Jangan lupa komentar di postnya kalau ada kritik atau saran maupun pertanyaan. Feel free to ask me!

#4 Bahasan Kokosten