Gimana Artajasa Pembayaran Elektronis saat COVID-19?

by | Mar 25, 2020 | #KokoFYI, Inside | 0 comments

Hai kembali lagi bersama kokosten, kali ini aku bakalan cerita mengenai kerja di Artajasa. Udah hampir 2 tahun sih aku bergabung di perusahaan pembayaran elektronis ini. Banyak pengalaman yang aku dapat dan juga kesempatan buat berkarya. Namun kali ini spesial buat bahas tentang kerja di Artajasa saat covid-19 atau coronavirus. Yap, gimana ya kira-kira? Yuk simak terus..

Artikel ini dibuat pada tanggal 25 Maret 2020. Jumlah korban positif terkena covid-19 kian banyak. Korban negatif, meninggal, dan sembuh juga terus terhitung. Kantor pusat Artajasa ini ada di BSD, Serpong, Tangerang Selatan. Jakarta bukan, Banten iya. Walau begitu, korban di Jakarta makin banyak. Hal ini ditambah lagi karyawan Artajasa banyak yang bertempat tinggal di Jakarta. Bekasi, dan Depok. Jadi kemungkinan buat terkena makin tinggi.

9 Maret 2020 – Marak

Setelah maraknya penyebaran virus corona, Artajasa memberi himbauan agar tidak meeting keluar dulu atau bertemu dengan pihak lain. Semua diharapkan berlangsung secara online kalau ada meeting. Juga untuk tamu diminta isi form yang berisi riwayat perjalanan serta pengukuran suhu tubuh. Ini tindakan pencegahan yang baik menurutku apalagi beberapa kantor lain sudah memberlakukan aturan yang serupa.

16 Maret 2020 – Mari Flashback

Melihat hal itu, pimpinan Artajasa beserta direksi membuat keputusan untuk adanya FWA alias Flexi Working Arrangement. FWA ini bahasa lainnya split team buat WFH. Jadi dibagi 2 tim, 1 tim kerja di kantor, 1 tim lain kerja secara WFH. Pimpinan Artajasa langsung yang kirim instruksi ini ke tiap karyawan dan ditekankan lagi oleh Vice President yang mengumpulkan staffnya secara langsung.

Akupun bertanya kepada VP, “Pak, berarti Artajasa belum melihat hal ini sebagai keadaan gawat ya? Kan masih separuh-sepatuh yang WFH”. Aku berkata seperti itu karena korban hari ini sudah 172 orang.

VP ku menjawab, “Bukan. Sudah dianggap bahaya kok. Namun ada petimbangan lagi kenapa harus split tim dulu.”.

Tenang, kebetulan aku dapat VP yang asik diajak ngobrol dan terbuka pemikirannya. Jadi dari awal aku masuk sudah satu pemikiran dengan beliau. Setelah dipikir-pikir, kenapa split tim, akupun menduga yaitu:

  • keputusan split WFH ini mungkin juga kekhawatiran takut tidak bisa monitoring dan pembiasaan dari cara kerja tradisional ke WFH. Apalagi komunikasi memang jadi hal yang sulit dicapai dibandingkan bertatapan langsung.
  • selain itu mungkin dari Artajasa masih ragu buat menyatakan red code dan melihat kantor lain juga masih ada yang masuk biasa

Oh ya, saat aturan ini dibuat, perusahaan kompetitor Artajasa di bidang switching masih mewajibkan karyawannya masuk secara normal. Perusahaan tersebut bahkan ada di Jakarta. Artajasa sudah membuat aturan ini walau kami bukan di Jakarta.

Artajasa juga bergerak cepat dengan melakukan penyemprotan desinfektan di seluruh bangunan dan ruangan kerja. Good job!

17 Maret 2020 – Kerja di Kantor

Kebetulan aku dapat tim yang kerja di kantor pertama kali. Lead daily meeting untuk lapor progress harian. Kantor sepi karena setengah dari divisi sedang WFH.

18 Maret 2020 – WFH Day 1

Akhirnya merasakan WFH pertama kali. Sebenarnya ini bukan kerja remote secara utuh. Emang karena pandemi ini kita dipaksa buat WFH supaya ga tertular maupun menularkan orang lain. Tapi menurutku potensi tertular juga masih tinggi karena kita juga harus ke kantor, apalagi yang rumahnya jauh harus pakai transportasi umum. Mau pakai transportasi pribadi? Mahal dan kebanyakan juga belum mempersiapkannya. Kenapa aku bisa bilang potensinya makin tinggi?

  • Karena ga full WFH, berarti kantor secara tidak langsung menyatakan kalo di kantor itu sehat. Dengan meningkatnya korban secara eksponensial, saya pribadi mau dong bukti kalo lingkungan dan karyawan disini itu memang sehat. Kalo lingkungan, ok kemarin sudah di desinfektan. Kalo yang karyawan, probabilitas saya seharusnya ada korban diantara seluruh karyawan AJ tapi belum sadar.
  • himbauan mengurangi kontak dengan orang lain saat mencari makan keluar saat makan siang atau berangkat/pulang kantor sulit dilakukan.

Kenapa probabilitasnya ada korban di perkantoran?

 

19 Maret 2020 – Harinya tiba

Grup kantor rame. Manajer dan pimpinan diatas ada meeting dadakan yang menyatakan kalo sekarang kita udah full WFH. Jadi hari itu aku ga berangkat ke kantor. Harus dibiasakan memang karena persiapannya hanya beberapa hari. Memang korban dari covid-19 di Indonesia kian naik. Hari ini saja sudah 309 orang. Naik hampir 2x lipat bila dibandingkan waktu pengumuman split tim.  

25 Maret 2020 – Kami HARUS Siap

Hari ini libur karena tanggal merah. Cuma pengen nulis blog aja soalnya udah terbengkalai (maafkan ^^v). Hampir seminggu kami WFH namun kami tetap mengusahakan yang terbaik buat pelanggan. WFH bukan berarti Artajasa libur, kalau pelanggan butuh teknologi untuk payment, kami juga harus siap buat menyusun, mengembangkan, menguji, dan memberikan hasil tersebut ke pelanggan. Tenang. Sekarang kan udah ada meeting online jadi kesiapan dan respon juga harus ditingkatkan. Bahkan produktivitasku naik waktu WFH ini lo. Kerjaan kantor selesai, kerjaan rumah selesai. Tapi kalo waktunya libur, ya libur gaes. Kerja lagi di hari normal lain.

Jumlah kasus kumulatif dan kasus baru per hari di Indonesia

Sumber: catchmeup.id berdasar data yang diolah

Nah itu dulu sih ceritaku di Artajasa ini selama setaun lebih beberapa bulan. Penyikapan tentang pandemi corona ini menurutku sudah sangat cepat di Artajasa karena emang pengen karyawannya sehat dan bisnis berlangsung dengan baik. Kita sama-sama berdoa semoga pandemi covid-19 ini segera berlalu ya dan tidak ada yang menyusul lagi. Serta juga harus apresiasi petugas medis dan karyawan rumah sakit yang sedang kerja keras demi menangani ini. You all got my respect!

Sekian sesi ceritanya yaa, sampai jumpa di postingan lainnya~~

#1 Selamat Datang

Halo! Selamat datang di blog Kokosten. Semoga info di blog ini dapat membantu kalian semua ya! Jangan lupa komentar di postnya kalau ada kritik atau saran maupun pertanyaan. Feel free to ask me!

#4 Bahasan Kokosten