Dukung Kesehatan Mental dengan Strategi ABG Kreatif

karena kamu berharga, kamu perlu baca ini..

Hai sobat Kokosten! Gimana kabarnya nih? Semoga baik dan sehat selalu ya. Kali ini aku bakal membahas mengenai kesehatan mental buat kita semua. Kesehatan mental ini penting banget kita perhatikan karena di era ini banyak sekali tekanan dan masalah yang siap menghantui kita. Penasaran bagaimana menjaga mental kita agar tetap sehat dan mencintai diri kita sendiri? Yuk simak pembahasannya..

“Wah, bahasannya berat banget nih. Kesehatan mental. Emang pentingnya apa sih?

Aku kan gak lagi sakit..”

Orang yang tidak sakit, belum tentu sehat loh. Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan adalah kesejahteraan mengetahui kemampuan dirinya, mampu mengatasi tekanan dalam kehidupan, bekerja secara produktif, serta berkontribusi bagi lingkungan sekitar[1]. Apabila kalian masih bisa melakukan kegiatan seperti biasanya tanpa terganggu, berarti kalian ada dalam definisi sehat. Namun apabila kalian merasa takut, enggan, bahkan merasa tidak nyaman melakukan suatu hal karena tertekan bisa jadi kalian sedang tidak sehat. Kok bisa? Tubuh dan pikiran mempengaruhi satu sama lain. Bisa jadi tubuh kalian gak fit, atau pikiran kalian sedang kurang baik atau stres ringan. Stres sedikit saja, bisa mengalami gangguan jiwa kalau tidak ditangani dengan benar.

Lantas apa yang mendasari postingan ini dibuat? Permasalahan mental dan emosi merupakan salah satu alasan orang memutuskan untuk bunuh diri di Indonesia [2]. Anak muda ataupun generasi milenial rata-rata belum mempunyai mental dan kendali emosi yang matang. Hal ini dibuktikan kembali dengan data WHO mengenai bunuh diri yang merupakan penyebab kematian kedua terbesar di dunia terutama pada usia 15 hingga 29 tahun. Apabila dihitung secara detail, tiap 40 detik terdapat satu orang yang bunuh diri [3].

Kasus bunuh diri ini biasanya dilatarbelakangi oleh banyak faktor, antara lain: bullying, masalah ekonomi, trauma masa lalu, pekerjaan, tekanan dari orang sekitarnya, dan masih banyak alasan personal lainnya. Seramnya lagi karena perkembangan teknologi yang pesat, masalah yang biasanya ditemui di lingkungan nyata dapat berpindah ke dunia maya. Misalnya saja media sosial dimana orang dapat berkomentar tanpa bertatap muka. Pengawasan yang kurang dalam penggunaan media sosial membuat anak memasukkan segala informasi yang diterimanya tanpa dipilah terlebih dahulu.

Mudah dan canggihnya teknologi sayangnya tidak diikuti dengan kualitas kesehatan mental. Milenial punya gangguan kecemasan, regulasi, emosi, dan depresi baik dari dunia nyata maupun maya. Perasaan menghakimi diri sendiri hadir karena membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Hadirnya teknologi ini juga mengikis waktu interaksi dengan orang tuanya sehingga anak cenderung untuk menyimpan masalah ini dalam dirinya sendiri. Hal inilah yang menyebabkan kita terusik kenyamananya, pikiran menjadi berat, stres, dan akhirnya berujung pada turunnya kesehatan mental.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kenyamanan kita antara lain faktor lingkungan, faktor biologis, dan faktor psikologis [4].

Faktor lingkungan

Faktor lingkungan biasa dikenal dengan faktor eksternal yang mana berasal dari sekitar kita. Faktor lingkungan biasanya berupa lingkungan kerja, lingkungan keluarga, lingkungan sosial, dan lain sebagainya. Interaksi kita dengan teman, ayah ibu, tetangga kos ada dalam faktor ini. Tau gak kalau orang-orang yang ada di lingkaran kita sekarang yang akan mencerminkan kita kedepan? Kalau di lingkaran kita orangnya optimis, pastilah kita akan terpacu untuk terus berusaha dan mencoba. Apabila di lingkungan kita orang yang pesimis, kebanyakan pasti akan ikut jadi gampang menyerah dan takut mencoba. Jadi, kalau kalian gampang banget menyerah dengan keadaan, aku punya saran. Coba ganti lingkaran pertemanan kalian atau lebarkanlah. Dijamin ada perubahan yang signifikan dalam hidup kalian.

“Ah, kokosten cuma ngomong doang ah. Paling ga ada aksinya!!”

Hal inilah yang aku coba ubah dalam hidupku. Beberapa bulan yang lalu, aku merasa bahwa hidupku flat dan tidak ada tantangan. Seperti tidak berkembang dan hanya itu-itu saja. Akhirnya aku memperlebarnya dengan ikut komunitas. Disanalah pikiranku ikut terbuka. Ternyata selama ini aku hanya menang di kandang. Hidup yang tidak ada tantangan ternyata hanya sudut kecil di lebarnya dunia. Masih banyak hal yang perlu diubah dan diperbaiki dari cara berpikirku. Hingga akupun membuat countdown untuk memacu perkembangan diriku sebagai pengingat.

Faktor Biologis

Faktor ini biasanya dapat berupa penyakit yang dialami, kebutuhan nutrisi yang sudah dipenuhi atau belum, bahkan waktu tidur. Misalnya saya kurang tidur yang akan menyebabkan kita mudah stres dan kurang dapat berpikir secara jernih. Jelas ini akan membuat tekanan khusus yang ada dalam diri kita. Jadi, kalau kalian sudah berusaha keras hendaknya beristirahat ya. Biarkan pikiran dan fisikmu sehat secara seimbang.

Faktor Psikologis

Faktor ini dapat berupa stressor, negative thinking, konflik pribadi, dan lain sebagainya. Besar kecilnya stres sebenarnya tidak mempengaruhi, yang mempengaruhi adalah bagaimana kita merespon. Tentu hal ini tergantung penyikapan masing-masing. Jangan semuanya dimasukkan dalam pikiran kita atau menjadi tanggung jawab kita semuanya. Kita perlu menghadapinya sendiri atau dengan bantuan orang lain. Bantuan inilah yang bisa dimanfaatkan seperti bercerita ke teman untuk mencari solusi ataupun ke psikolog profesional. Sejatinya ada yang masalah hidupnya dapat selesai dengan bercerita agar nyaman, ada juga yang harus ada aksi untuk menghadapi masalahya.

Kesehatan mental di era teknologi ini menjadi sangat penting untuk dijaga. Jangan sampai teknologinya sudah bagus, namun kitanya justru yang kualitasnya semakin menurun. Oleh karena itu, kesehatan mental dapat kita jaga dan sadari dengan strategi ABG Kreatif, yaitu Asosiasi, Blog, Government (Pemerintah), dan Kreatif.

Asosiasi

Asosiasi atau perkumpulan adalah tempat yang baik untuk memulai kembali berinteraksi dengan sesama. Dalam skala kecil, asosiasi dapat diwujudkan dalam bentuk komunitas. Dalam komunitas, kita bisa menemukan pihak yang bisa memberikan saran ataupun sekadar tukar cerita. Hal sederhana ini dapat turut membantu kita dalam menjalani hidup. Tentunya tidak semua komunitas baik, kita perlu memilah juga. Apabila kita bertemu dengan orang yang punya pemikiran positif, tentunya hal positif itu akan membantu masalah kita dengan nasehat atau pengalaman hidupnya. Namun apabila orang yang kita temui bersudut pandang negatif, justru ini memberatkan kita. Gak harus komunitas kok, lingkungan kalian juga bisa diliat. Nah, lingkungan di sekitar kalian membantu ketika ada masalah atau justru makin menyudutkan kalian nih? Hayoo..

Blog

Blog atau website dapat menjadi platform yang mendukung mobilitas generasi milenial yang cenderung sibuk dan sulit menyempatkan waktu. Pada era teknologi ini, penyebaran konten buruk atau memojokkan salah satu pihak sangat marak. Bahkan konten bermanfaat makin sulit ditemukan. Maka dari itu perlu adanya blog, website, ataupun platform yang memuat tips-tips atau informasi yang dapat membuat perubahan diri kita menjadi lebih baik. Kemudahan akses informasi inilah yang dapat dimanfaatkan dan menjadi kesadaran bagi kita untuk membangun diri.

Government (Pemerintah)

Pemerintah juga memiliki andil yang sangat besar untuk menjaga kesehatan mental masyarakatnya. Sebagai pembuat kebijakan dan regulasi, perlu adanya sistem atau fasilitas yang memberikan pelayanan konseling di setiap daerah baik topik psikologis maupun lainnya. Seperti Pemerintah Bandung yang memberikan fasilitas kendaraan konseling silih asih untuk melayani warganya. Tentu ini dapat dijadikan contoh daerah lainnya untuk berinovasi dalam mengutamakan kebutuhan masyarakat.

Pada era industri 4.0 ini teknologi dapat membantu kita apalagi dimanfaatkan dengan baik dan benar.  Manusia dan teknologi dapat bersinergi untuk menciptakan daya kerja yang cepat dan tepat. Oleh karena itu, pemerintah juga perlu memberikan arahan bagaimana menggunakan teknologi yang baik kepada masyarakatnya. Juga topik penggunaan media sosial yang bijak bagi anak muda agar dapat memilah informasi yang berguna bagi dirinya.

Kreatif

Dengan majunya teknologi saat ini, serba otomatis bahkan serba cepat juga harus diiringi dengan kreativitas kita agar seimbang. Tidak hanya teknologi, perlu ada terobosan baru agar semakin memanusiakan manusia. Oleh karena itu, sebagai generasi muda yang kompeten kita perlu mencari potensi yang baik dan bukan menolak keberadaan teknologi itu sendiri. Pada penerapannya di media sosial, janganlah menjadikan platform itu sebagai kambing hitam. Tapi dengan media sosial, kita bisa lebih mudah dalam mempromosikan produk atau mengasah talenta kita. Benar kan?

Era yang serba modern alias era industri 4.0 ternyata makin banyak tantangan. Teknologi yang kian maju namun tidak diikuti oleh kesehatan mental dan kebahagiaan. Justru ada yang merasa tertekan karena tekanan dari berbagai pihak yang bisa muncul dimana saja, apalagi dengan adanya media sosial. Oleh karena itu, perlu adanya sebuah wadah untuk memfasilitasi orang-orang untuk mencurahkan kisahnya sebagai tempat bercerita atau meminta pendapat.

Ibunda.id adalah jawabannya. Awalnya memang aku belum mengerti bagaimana cara kerja dari platform ini. Setelah proses pe-de-ka-te alias cari tau, ternyata mereka sudah banyak aktif di media sosial dan websitenya.

Misalnya saya via instagram. Takjub! Kata yang pertama kali ada di pikiranku. Berasa diberi petuah dan gambaran yang menarik yang emang aku rasain.

“Ternyata ada loh wadah buat tanya jawab atau cari saran buat diri sendiri”, kataku dalam hati

Misalnya deh aku yang lagi sumpek sama kerjaan. Di postingan instagramnya ada yang membahas tips buat menghadapi malas di tempat kerja. Juga berbagai cara untuk menghadapi depresi bahkan ada yang membahas masalah yang khusus dirasakan temen-temen perempuan. Berasa satu persatu masalah yang aku hadapi ada jawabannya dalam setiap postingan mereka.

Kenapa postingan ini begitu penting? Dengan targeting pengguna instagram yang didominasi anak muda, tentu instagram bisa menjadi pisau bermata dua. Sisi baiknya adalah kita pasti bertemu postingan suksesnya orang lain ataupun inspirasi baru. Sisi berlawanannya adalah seringkali kita membandingkan diri kita dengan suksesnya orang lain tanpa tahu perjuangan yang ia lakukan. Pasti ada rasa menyalahkan diri sendiri bahkan parahnya ada yang merasa bahwa dirinya tidak beruntung. Hadirnya ibunda.id di instagram justru ingin menyadarkan kita agar jangan lupa merefleksikan dan memperbaiki diri kita selalu. Selain instagram, media sosial lain yang dipakai layanan konseling adalah line, facebook, dan youtube. Mudah banget dijangkau kan?

Beda layanan yang diberikan, beda lagi platform yang digunakan. Kali ini melalui media website. Websitenya keren dan punya berbagai fitur yang mendukung, antara lain: curhat, kata bunda, dan kekasih juara.

Fitur curhat adalah fitur dimana kita bisa mencurahkan apa yang kita rasakan untuk kemudian mendapat respon dari para psikolog yang menjadi tim Ibunda. Dengan nama yang diusung yaitu “Ibunda” atau “Bunda”, berasa curhat sama ibu sendiri loh. Jadi berasa lebih dekat dan lepas dalam berkeluh kesah. Tenang, kita bisa menyembunyikan nama kita menjadi “anonim” saat bertanya kok, jadi aman dan jangan takut cerita yaa..

Fitur selanjutnya adalah kata bunda. Fitur ini seperti portal informasi yang menjadi pelengkap pengetahuan kita. Misalnya tentang kisah asmara, tipe-tipe marah, resiko stres, dampak dari stres dan masih banyak yang lain. Oh ya, baik dari fitur curhat dan kata bunda ini ada beberapa sub-topik loh, seperti pertemanan, keluarga, percintaan, dan masalah diri.

Yang gak kalah keren adalah Kekasih Juara. Tau gak sih? Sejak Januari 2018, pemerintah kota Bandung udah menggaet Ibunda.id menjadi rekan resmi sebagai platform konsultasi online. Kekasih juara ini merupakan arti dari Kendaraan Konseling Silih Asih untuk memberikan pelayanan konsultasi permasalahan psikologis yang dialami warga Bandung. Setiap 2 minggu sekali ada jadwal konseling yang diselenggarakan untuk melayani dan mendengarkan cerita kita. Mulai dari topik ibu dan bayi, permasalahan psikologis, anak dan remaja, ketergantungan, religi, bahkan topik reproduksipun dapat dibahas di Kekasih Juara. Keren banget kan?

Tak hanya melaui daring, Tim Ibunda.id juga punya beberapa kegiatan yang dilakukan secara tatap muka. Mereka sering mengadakan event ataupun bekerja sama dengan pihak lain. Tentunya dengan menawarkan berbagai manfaat yang dapat membantu kita. Keren banget ya?

Apalagi ini cocok banget buat aku yang “gak puas” kalo beberapa pertanyaan dijawab lewat tulisan, harus ketemu langsung biar mantep rasanya.

Jadi, kalau kalian emang lagi sumpek, butuh bercerita dan ingin dari orang yang profesional bisa banget mengunjungi ibunda.id melalui website atau media sosial yang lain. Tenang, rahasiamu dijamin aman karena mereka didukung oleh orang yang paham di bidangnya.

Kenapa kamu perlu jaga kesehatan mentalmu?

Kamu Berharga

Kamu gak ada duanya. Kamu unik. Kamu pasti bisa. Persimpangan ditujukan buat mengukir kita menjadi lebih indah dan kuat. Ingatlah kalau pedang yang baik melalui tempaan yang tidak sedikit

Memberikan Manfaat

Manusia lahir diberikan bermacam-macam talenta. Kalau kalian masih belum bisa menemukannya, tenang pasti ada saatnya. Setiap orang punya waktunya masing-masing.

Dunia Butuh Kamu

Kalau kamu merasa gak ada manfaatnya, jangan salah! Kamu bisa ikutan aksi menyelamatkan lingkungan hidup ataupun relawan. Selain memberikan mengabdikan diri untuk Tuhan, untuk manusia, seimbang dengan alam adalah kunci dalam warisan turun menurun.

KESIMPULAN

Besar kecilnya stres tidak mempengaruhi, yang mempengaruhi adalah bagaimana kita merespon. Dengan adanya teknologi, kita harus bijak dalam mengelola informasi. Kemajuan teknologi hendaknya membuat kita sebagai pengguna mampu ikut bahagia karena dipermudah. Kesehatan mental juga harus menjadi hal yang diperhatikan dan bukan menjadi bahasan yang tabu lagi. Semua yang sehat secara fisik belum tentu sehat secara mental. Kalau kita punya keluhan atau sedag ada masalah, jangan sungkan untuk bercerita. Apabila kalian ingin konsultasi dengan psikolog bisa mengunjungi layanan kesehatan mental berbasis inovasi teknologi yaitu Ibunda.id. Jangan merasa sendiri, ayo berani bercerita..

Karena semua perlu dibicarakan

Jangan memendam sendiri

Akupun siap mendengarkan keluh kesah

Ataupun cerita indah darimu

Berkabar saja kalau mau

Tenang, aku pendengar yang baik

Kalian juga bisa bertukar kisah denganku ya kalau butuh teman ngobrol. Aku siap mendengarkan. Sekian postingan kali ini, semoga bisa membantu kalian apabila sedang ada di persimpangan. Semangat, stay positive and keep learning guys!

“Ibunda, Teman Pertama Kamu untuk Curhat”

REFERENSI

[1]      H. Herrman, S. Saxena, and R. Moodie, Promoting mental health: concepts, emerging evidence, practice: a report of the World Health Organization, Department of Mental Health and Substance Abuse in collaboration with the Victorian Health Promotion Foundation and the University of Melbourne. World Health Organization, 2005.

[2]      I. G. N. E. Putra, P. A. E. S. Karin, and N. L. P. Ariastuti, “Suicidal ideation and suicide attempt among Indonesian adolescent students,” Int. J. Adolesc. Med. Health, 2019.

[3]      World Health Organization, “Suicide data,” 2016. [Online]. Available: https://www.who.int/mental_health/prevention/suicide/suicideprevent/en/. [Accessed: 31-Oct-2019].

[4]      Instastory Ibunda.id, “Faktor yang Mempengaruhi Kenyamanan,” 2019. [Online]. Available: https://www.instagram.com/ibunda.id/. [Accessed: 14-Nov-2019].

Sumber Foto:

Government Photo by Frederic Köberl on Unsplash
Blog Photo by Glenn Carstens-Peters on Unsplash
Community Photo by Tim Marshall on Unsplash
social Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash
self Photo by Giulia Bertelli on Unsplash
man’s reflection Photo by Randy Jacob on Unsplash
tech Photo by Blake Wisz on Unsplash

“Karya/tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi Journalist Challenge by Ibunda.id, platform karya anak bangsa yang menyediakan layanan kesehatan mental berbasis teknologi.”