Belajar Menghadapi Persimpangan dari Novel Si Anak Badai

Buka Buku Episode 3

“Oi, tidak baik menyesali apa yang telah diputuskan. Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang. Lagi pula sudah kewajiban kita ikut membantu satu sama lain” (halaman 132)

Hai sobat Kokosten, apa kabar nih? Semoga baik selalu ya. Kali ini aku bakalan mengulas salah satu bacaan bulan ini yang aku rekomendasiin di #BukaBuku episode ke-3. Novel yang punya judul “Si Anak Badai” ini, sukses menarik perhatianku. Kok bisa? Yuk simak ulasannya..

Berikut adalah identitas dari Novel Si Anak Badai:

JudulSi Anak Badai
GenreNovel/Fiksi Indonesia
Kategori UmurSemua Umur
PenulisTere Liye
Co-authorSarippudin
CoverResoluzy
LayoutAlfian
PenerbitRepublika Penerbit
Tahun Terbit2019 (Agustus)
CetakanPertama, 1st Published

Sampul

Softcover
Tebaliv + 318 halaman; 21 cm
Berat204 gram
ISBN978-602-5734-93-9
HargaRp 70.000,00 (Harga Pulau Jawa)

SINOPSIS NOVEL "SI ANAK BADAI"

(Tulisan Sampul Belakang)

Badai kembali membungkus kampung kami. 

Kali ini aku mendongak, menatap jutaan tetes air hujan dengan riang. 

Inilah kami, Si Anak Badai.

Tekad kami sebesar badai. Tidak pernah kenal kata menyerah.

***

Buku ini tentang Si Anak Badai

yang tumbuh ditemani suara aliran sungai,

riak permukaan muara, dan deru ombak lautan.

Si Anak Badai yang penuh tekad dan keberanian

mempertahankan apa yang menjadi milik mereka,

hari-hari penuh keceriaan

dan petualangan seru.

RINGKASAN

Novel ini menceritakan tentang kisah masyarakat yang ada di Kampung Manowa. Mengambil sudut pandang orang ketiga dengan titik berat pada tokoh utamanya bernama Zaenal. Ia punya beberapa teman dekat, diantaranya Ode, Malim, dan Awang. Mereka selalu melakukan kegiatan rutin setiap Minggu sore atau masa libur sekolah tiba yaitu menunggu kapal-kapal dari laut ke arah hulu, atau kapal dari arah hulu yang berlayar menuju lautan. Kalau yang lewat kapal penumpang, mereka akan bergegas berenang kearah kapal, melambaikan tangan, dan berharap penumpang melempar uang koin. Sebelum koin berhasil didapatkan salah satu dari mereka, berarti perburuan belum usai.

Cerita ini mengangkat kearifan lokal dan kehidupan masyarakat yang kemana-mana perlu menggunakan perahu sebagai alat transportasinya. Mata pencaharian utamanya adalah nelayan, namun beberapa tokoh lain juga dikenalkan sebagai petugas di kantor kecamatan, penjual kopi, dan sebagainya. Juga dalam keluarga Zaenal yang unik, ada Mamak, Bapak, dan kedua adiknya. Berbagai perbincangan hangat dilakukan dan beberapa kali berbalas pantun di bagian tertentu. Zaenal dan adik-adiknya sering diminta mengukur badan oleh Mamak yang bekerja sebagai penjahit. 

Tiba di beberapa konflik kecil yang menghantarkan menuju konflik utama. Konflik kecil dialami oleh masing-masing individu, kemudian meningkat menjadi masalah jembatan ulin yang rubuh.  Pada suatu hari tiba beberapa pejabat penting yang ingin mengubah Kampung Manowa menjadi dermaga besar. Dengan iming-iming ekonomi dan kesehatan akan sejahtera, oknum ini ingin menarik hari penduduk disana. Sosok Pak Kapten yang kritis dan banyak pengalaman pun hadir secara gamblang menentang proyek ini. Pak Kapten yang ada di garis depan pun berusaha untuk mengawal masalah ini agar proyek dermaga dibatalkan. Ia pun juga dituntut menuju pengadilan berdasarkan saksi palsu dan kejadian yang sudah lama berlangsung. Lebih dari itu, Pak Kapten sudah menumbuhkan sense of belonging di hati masyarakat untuk melindungi kampung ini.

Menyoal kerjasama dan keberanian

Camat Tiong dan Utusan Gubernur sebagai pejawat bersikeras untuk melanjutkan proyek dermaga ini walau masyarakat Kampung Manowa tidak menyetujuinya. Kerumunan pegawai dan mandor pun sudah hadir di kampung dan merubuhkan beberapa bangunan dengan dasar hitam diatas putih. Serunya lagi, setelah diselidiki ternyata ada kasus dan hal yang ditutupi dari proyek ini. Siapa sangka. Kecerdikan Zaenal, Malim, Ode, dan Awang pun membuahkan hasil. Mereka berhasil mengelabuhi penjaga yang ada di kapal mewah tempat pejabat mengadakan pertemuan. Dengan kerja sama cantik, mereka melakukan dan pemikiran Zaenal yang out of the box berhasil menyelamatkan Pak Kapten dan Kampung Manowa dari penggusuran akibat proyek dermaga.

Jika kita tarik ke dunia nyata, sebenarnya Geng Si Anak Badai itu ada. Tergantung sudut pandang kita menganggap mereka. Kalau tidak adapun, kita bisa menjadi salah satu dari mereka yang terus berjuang menyelamatkan masyarakat dari permainan kotor oknum pemerintahan. Tak hanya itu, kegigihan dan kerja sama dari pertemanan bisa menghasilkan nilai yang bermanfaat dan memuaskan.

REVIEW TIME!!

Tatapan pertama memang harus mengesankan dan punya makna. Begitu pula novel ini dikemas dengan sampul yang sangat eye-catching. Sampulnya menggambarkan suasana langit bewarna jingga yang menyinari rumah-rumah kayu, dermaga, dan perahu kecil. Apabila diibaratkan sebuah gambar pemandangan, lansekapnya sudah sangat lengkap dan proporsional. Pengaturan tempat teks judul dan gambar begitu seimbang sehingga pembaca dihantarkan merasakan latar tempat novel ini berada.

Tulisannya mampu menghipnotis pembacanya, tak sadar membalik halaman untuk terus membaca dan akhirnya tuntas. Penulis dengan mahirnya memadu padankan satu kalimat dengan kalimat yang lain menjadi makna yang menyentuh dan mengalir.

Kekurangan

Sebuah karya pasti ada memiliki segi yang perlu diperbaiki dan menjadi masukan untuk karya berikutnya. Buku ini masih memiliki kesalahan kecil yang mungkin dapat berbeda makna. Misalnya pada penggambaran detail berikut:

“Kami berkerumun, menyaksikan para pekerja turun dari kapal. Pakaian mereka seragam, semuanya memakai helm proyek bewarna putih. Hanya satu orang yang memakai helm warna kuning. Nantinya kami tahu, nama orang itu Mustar. Dia pemimpin para pekerja” (halaman 254)

Dari potongan deskripsi diatas, kita tahu kalau Pak Mustar adalah pemimpin pekerja (mandor dan menggunakan helm warna kuning dan pekerja lainnya mengenakan helm warna putih. Penggambaran warna helm ini terbalik. Mandor atau pengawas pekerja seharusnya menggunakan helm warna putih. Pekerja umum atau operator menggunakan helm warna kuning. Sebenarnya ini bukan kesalahan fatal sih karena alur cerita jelas tidak terganggu dengan hal ini.

Kesalahan kecil lain ada pada halaman 229 yaitu pada “Kali ini mereka tidak sibuk mengolokku, melalinkan ikut menatap kerlip lampu”. Kata melalinkan seharusnya adalah melainkan. Kekurangan lain yang sebenarnya bukan sepenuhnya kekurangan adalah pemilihan kata yang baru dan belum familiar bagiku. Misalnya adalah papan kayu ulin, berdebam, sembilu, bale, dan lainnya. Namun hal ini sudah didefinisikan dengan jelas pada penggambaran situasi sehingga akupun dapat berimajinasi dengan lancar. Setelah membaca novel inipun akhirnya aku menambah pengertian beberapa kata baru.

“Setiap orang melakukan kesalahan. Yang membedakan antara orang yang melakukan kesalahan itu adalah ada yang belajar dari kesalahannya, ada juga yang tidak mengambil pelajaran apa-apa dari kesalahannya itu”,  (Halaman 72)

Aku sedang ada di sebuah persimpangan hidup. Setelah membaca penggalan novel diatas rasanya seperti nasihati dan jadi hadir memberikan solusi.. Kata demi kata, kalimat demi kalimat dalam novel ini rasanya selalu seperti berhubungan erat denganku. Buku ini menjadi dekat karena teknik penulisannya yang sangat mendalam dan detail penggambaran suasana yang bisa dihantarkan dengan mudah.

Keunggulan

Bagiku, novel Si Anak Badai ini adalah sebuah suguhan yang sangat mewah. Keunggulan atau kelebihan dari novel ini pasti sudah dirasakan pembaca bahkan sebelum buku ini habis dibaca. Memang Tere Liye selalu mengejutkan kita disetiap karyanya. Seperti maestro tulisan yang siap memberikan pemikirannya untuk para pembacanya.

Kelebihan pertama adalah daya tarik sampul nya menjadi menu pembuka yang menyegarkan. Selanjutnya adalah penggambaran kondisi dan suasana yang mempu membentuk theatre of mind di pikiran pembaca. Hal ini dapat ditemukan pada kondisi dengan bajak laut yang begitu nyata dan menghantar emosi ke pembaca. Percakapan Pak Kapten dengan utusan gubernur begitu hidup. Juga ketika zaenal dengan kawan kawannya yang pergi memancing di malam hari maupun pada saat badai di perjalanan pulang memancing ikan cakalang. Emosi pembaca juga turut dilibarkan terhadap tokoh si Alex Saja.

Kelebihan buku ini juga terletak pada ide dan alur cerita yang mengalir. Alur ini lebih bewarna dengan konflik dan humor yang begitu segar. Humor ini menjadi bumbu yang melengkapi cerita si anak badai. Ceritanya begitu mengena dan juga mengingatkan kita dengan cara yang halus melewati kata-kata. Sering kita memacu diri tanpa pernah mengevaluasi. Sudahkah kita bermanfaat? Sudahkah kita berusaha semaksimal mungkin hingga batas? Riset dan pemilihan tema novel ini memang bukan main-main. Aku yakin Tere Liye dan Sarippudin juga tidak asal mengambil amanat yang akan diberikan kepada pembaca. WOW!

TAKJUB

Takjub. Sungguh takjub. Aku sempat berpikir bagaimana Tere Liye dan co-author Sarippudin berimajinasi dan riset dalam pembuatan novel ini. Suasananya begitu nyata, celotehnya begitu hidup, bahkan beberapa kali ada pesan yang membuatku merinding dan terharu ketika membacanya. Begitu mendebarkan dan puas setelah membaca Si Anak Badai. Kalo boleh aku ingin mempersembahkan poin “TAKJUB” ini untuk Tere Liye dan Sarippudin.

Beberapa hal yang aku apresiasi dan tak henti membuatku takjub antara lain:

  • Celoteh dan canda Awang
  • Cerdiknya Fatah dan Zaenal saat bertemu dengan Wak Sidik di kantor kecamatan
  • Sikap iri Ode dengan Malim dan pertengkaran ala anak kecil
  • Situasi dengan guru rudi tentang perumpamaan
  • Tingkah laku anak-anak kepada mamak dan bapak yang membuat tertawa ketika membayangkannya
  • Cerita Fatah tentang Malim di Masjid
  • Celana Malim yang melorot
  • Cerita tentang tukang cuci piring dan nahkoda di halaman 142
  • Penggambaran suasana mengejar maling di pasar seperti film action
  • Klimaks saat di dermaga dan buldoser
  • Siasat genius Zaenal sebagai penutup yang sempurna
  • Karakter Pak Kapten
  • Epilog membuat merinding

REFLEKSI DIRI

“Tapi rasa hambar itu bisa tetap lezat kalau kalian tahu besarnya perjuangan Mamak menyiapkan tumis kangkung dan tempe goreng ini. 

Kalian lihat sendiri, mamak menjahit siang dan malam. Mamak pasti capek. Mesin perahu saja kalau dipaksa menyala terus-menerus akan sangat panas. Bisa-bisa meledak. Padahal itu mesin perahu, yang kerjanya itu-itu saja. Oi, Mamak sebaliknya, dia juga harus mencuci baju, menyetrika, membersihkan rumah, menyiapkan makanan. Mamak melakukan segalanya di rumah ini, bukan?”, (halaman 122)

Seperti ditampar setelah membaca kata-kata Bapak kepada Za dan adik-adiknya. Saat itu Mamak sedang membantu menjahit pakaian tampil untuk ibu-ibu. Jumlah yang banyak dan waktu yang sangat singkat membuat Mamak tidak sempat melakukan aktivitas seperti biasanya. Konsentrasi pun terpecah belah antara menjahit dan melakukan kegiatan rumah tangganya. Disinilah peran Bapak menasihati anak-anaknya untuk menghargai pengorbanan yang dilakukan Mamak. Seringkali kita menuntut namun tidak memberikan pengertian dan apresiasi. Benar-benar membuka mata atas perjuangan orang tua selama ini, sudahkah kita mengucapkan terima kasih?

“Oi, tidak baik menyesali apa yang telah diputuskan. Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang.

Lagi pula sudah kewajiban kita ikut membantu satu sama lain” 

(halaman 132)

Bapak kembali mengeluarkan respon dan menenangkan hati. Kali ini diberikan pada Mamak yang hampir menyerah bahkan menyesal telah membantu menjahitkan pakaian tampil.  Karakter Bapak ini memang berpikiran terbuka dan tenang. Masalah memang harus ditanggapi dengan kepala dingin. Beliau mengajarkan langkah terus maju tanpa memikir penyesalan. Aku jadi pengen tau bagaimana masa lalu Bapak. Mengapa demikian? Seorang yang bijaksana pasti ditempa dari masa lalu yang tidak mudah. Aku rasa ini bisa jadi sekuel yang menarik nantinya apabila mengulas karakter Bapak. Apalagi karakter Bapak dalam cerita ini seperti penyeimbang dan pemikir yang bisa diandalkan.

“Hancur perahu menghantam karang batu

Nelayan tegar berdiri dengan gagah berani

Tolong beritahu Adik tentang sesuatu

Bagaimana menghapus rasa bersalah ini”

(Berbalas pantun Mamak halaman 133)

“Datangilah mereka sekarang juga. Cium satu per satu. Itu akan menjadi embun di hati kau, juga di hati mereka”, Bapak (halaman 134)

Lagi-lagi Bapak. Aku salut kepada karakter Bapak. Ibarat punya akun instagram, pasti aku follow Bapak ini. Beliau memberikan saran dari penyesalan mamak yang kurang memerhatikan anaknya karena tugas menjahit. Kali ini Mamak sebenarnya ingin mengajak Zaenal dan adik-adiknya untuk belanja ke pasar terapung sebagai permintaan maaf. Kasih sayang memang ada yang dilihat dan tidak bisa dilihat. Tak perlu menunggu momen atau saat yang tepat untuk menghapus rasa bersalah. Kasih sayang yang tidak dapat dilihat namun dapat dirasakan ini sudah dilakukan orang tua kita setiap harinya. Seperti kelanjutannya, Mamak menghampiri Zaenal yang pura-pura tidur dan menciumnya. Duh, setiap baca bagian ini aku pasti merinding dan terharu…

Pesan Moral

Gigih dan Pantang Menyerah

Kegigihan dan pantang menyerah membuahkan hasil. Kerja sama membuat semua tersusun rapi dengan menyuhuhkan kelebihan masing masing. Kelebihan itu saling menutupi kelemahan rekan rekannya menjadi sebuah titik balik positif.

Memahami Kondisi Orang Tua

Orang tua sebagaimanapun pasti ingin anaknya senang. Seringkali juga kita menuntut untuk terus menerus diperhatikan. Dalam novel ini aku belajar untuk memahami kondisi orang tua. Beliau berdua selalu berusaha tersenyum didepan anak-anaknya walau sakit dan lelah. 

Harus jadi Pemimpin Jujur

Pemimpin haruslah jujur. Proyek dermaga yang tidak layak dilanjutkan pun harus terpaksa dilanjutkan. Tentu dengan perubahan dan suap oleh pejabat negara yang akhirnya berakhir di jeruji besi. Tentu hal ini banyak terjadi karena oknum-oknum pemerintahan yang tidak amanah. Kebijakan yang tidak mempedulikan kepentingan umum tentu akan merugikan. Untungnya, kebenaran segera terungkap berkat kecerdikan Geng Si Anak Badai.

Jadi Teman yang Membangun

Pesan ini yang disampaikan dari kuatnya kemauan Zaenal membujuk Malim agar sekolah lagi. Walau ia diperlakukan kurang baik oleh Malim ketika membujuknya, ia yakin teman harus ada di kala senang dan susah. Ketika ada salah satu diantara mereka yang murung, yang lain pasti bertanya agar saling berbagi cerita dan solusi.

Menimba Ilmu itu Penting

Bu Rum dalam perannya juga membujuk Malim agar kembali bersekolah. Sekolah merupakan hal yang penting untuk masa depan. Juga dalam ilmu agama, Guru Rudi juga membimbing anak-anak untuk mengaji dan memberikan nasihat dengan kepala dingin.

KENAPA HARUS BACA "SI ANAK BADAI"?

Aku yakin yang sudah baca Si Anak Badai pasti merekomendasikan buku ini. Penulis buku mengangkat aspek kearifan lokal untuk membawakan pesan kepada pembaca. Amanatnya juga cocok untuk segala usia. Penataan dan sistematika setiap bab juga runut sehingga mudah dicerna oleh pembaca. Kalau kalian sedang ada di ujung persimpangan dan bingung bagaimana ingin melangkah, kalian perlu tahu bagaimana nasihat Bapak dan geng Zaenal dengan teguhnya melawan keadaan.

Pemilihan kata juga ajaib. Mengalirkan emosi ke pembaca seolah-olah ada ada di lokasi kejadian. Pembawaan dan penyikapan karakter yang bewarna ini membuat kita belajar dari banyak sudut pandang. Si Anak Badai ini menemani perjalananku ketika perjalanan di kereta. Kalian juga bisa membacanya dimanapun kalian bisa bersantai. Adanya 25 bab dan epilog membuat pembaca dapat mencicil bacaan dengan santai. Tapi aku rasa, kalian bakal terus penasaran dengan apa yang terjadi, hehe ^^v

7 Hal yang Kokosten Suka dari Novel Si Anak Badai

#1 The Best Theatre of Mind

Novel ini berhasil membuatku berimajinasi luas. Setiap katanya menghantarkan pembacanya seolah ada di kondisi ataupun lokasi yang dituju. Bahkan detail kecilpun berhasil digambarkan di pikiranku. Selain itu juga ikut membawa emosi pembacanya, baik haru, senang, sedih, dan lainnya

#2 Filosofi yang Mantap

Setiap ucapan Bapak ataupun Pak Kapten rasanya sudah sangat menggambarkan poin kedua ini. Seperti ada hal yang magis setiap mereka berbicara. Bahkan seringkali bukan hanya menampar lakon yang diajaknya berbicara, juga ikut menamparku dengan nasihatnya

#3 Dekat dengan Pembaca

Jelas, latar belakangku bukan dari lingkungan muara atau perairan. Namun kata-kata baru disini justru dengan mudah aku tangkap dengan mudah. Tere Liye memang tidak ingin membuat pembaca berpikir keras, maka dari itu ia mendeskripsikan semuanya dengan sangat jelas dan tidak berlebihan.

#4 Pesan yang Sangat Baik

Lengkap sudah. Aku dapat banyak pembelajaran dari novel ini. Belajar bagaimana harus bersikap, harus menghargai jerih payah orang tua, gigih menghadapi permasalahan, harus menjaga pertemanan yang sehat dan salin mendukung, dan pesan lainnya. Satu novel yang kaya akan amanat.

#5 Desain Sampul yang Keren

Harus aku akui lagi. Desain sampulnya benar-benar indah. Paduan warna jingga yang kegelapan. Dengan latar perkampungan yang ditemani perairan serta objek utama yaitu perahu memang membuat decak kagum. Kalimat “jangan melihat buku dari sampulnya” gak berlaku buat novel ini. Sampul dan isinya seperti paket lengkap yang harmonis! Sama-sama bagusnya..

#6 Perilaku Antar Karakter yang Bervariasi

Tingkah laku anak-anak, mamak, dan bapak dalam keluarga yang membuat tertawa ketika membayangkannya. Bahkan setelah itu ada kondisi yang mengaduk perasaan lagi. Ditambah lagi dengan sikap iri Malim dengan Ode dan pertengkaran ala anak kecil. Juga kewibawaan Pak Kapten yang aku acungi jempol. Akupun gak bakal pikir dua kali kalau diminta buat baca novel ini berulang kali. Pasti aku terima.

#7 Alur Cerita yang Konsisten dan Tidak Monoton

Tidak mudah membuat pembaca mau membalik halaman demi halaman untuk terus membaca. Berbeda dengan novel yang biasanya, novel Si Anak Badai mampu membuat penasaran pembaca untuk menebak apa yang terjadi kedepannya. Train of thought dari tiap karakter juga memberikan warna pada novel ini. 

Tere Liye dengan ajaibnya berhasil mengajak pembaca untuk turut merasakan apa yang dirasakan oleh masyarakat kampung Manowa. Kental sekali bahkan rasa setelah membaca kata demi kata, kadang merasa sedih, jengkel, tertawa karena memikirkan kelucuan tokoh tertentu, bahkan sampai takjub akan petuah dari filosofi yang diberikan. Tere Liye mampu menyuguhkan delivery feel yang dapat menggambarkan kondisi dengan jelas. Keren banget sih ini, dua jempol buat Tere Liye dan Sarippudin!

Koko Wow-Scale

Amanatnya paling mengena! Belajar banyak filosofi di novel ini. Bagaimana harus bersikap, gak boleh pantang menyerah dengan keadaan, hingga bagaimana mendukung sesama teman. Tere Liye bisa membawa emosi pembaca seolah-olah aku menjadi masyarakat Kampung Manowa. Penggambaran suasana mengejar maling di pasar seperti bahkan membuatku takjub, pikiranku membayangkan seperti film action saja. Juga klimaks cerita saat di dermaga dan buldoser. Benar-benar perjuangan yang harus terus dijaga. Siasat jenius dari Zaenal juga berhak mendapatkan tepuk tangan yang lebih. Benar-benar tak terpikirkan, out of the box!

Jawaban Pipit terhadap perumpamaan Guru Rudi mengenai perumpamaan Nabi Nuh juga membuatku tertawa, ditambah respon temannya yang ikut meniru jawabannya makin buatku tertawa lepas. Emang khasnya Tere Liye yang memasak dan merakit percakapan ini kian seru.

KEREN BANGET! Aku berani rekomendasiin novel ini buat kalian.

Koko Sten

Blogger - Profesional Videographer - Full Time Learner

Review di GoodReads

Si Anak BadaiSi Anak Badai by Tere Liye
My rating: 5 of 5 stars

Amanatnya paling mengena! Belajar banyak filosofi di novel ini. Bagaimana harus bersikap, gak boleh pantang menyerah dengan keadaan, hingga bagaimana mendukung sesama teman…….

View all my reviews

Nah, kalian udah baca belum novel ini? Aku bisa jamin kalian bakal punya semangat baru setelah baca novel ini. Cara kita memandang hidup juga diperbaharui dari penyikapan masing-masing tokoh. Oh ya, kalau kalian tertarik buat beli buku ini bisa cek ke Republika Penerbit yang ada di website maupun toko yang ada di shopee. Kalo aku belinya yang via shopee, bisa klik disini. Jadi gampang banget kan belinya?

So, sampai jumpa di postingan berikutnya yaa!!! Babai~~~

#BukaBuku

Buka Buku adalah pembahasan buku dengan tema bebas, selain traveling. Ada ulasan novel dan buku investasi juga loo..

#BahasBukuGan

Oh ya, Kokosten juga bahas buku khusus yang berhubungan dengan traveling. Juga ada tips dan informasi liburan lainnya.

DISCLAIMER: Gambar diambil oleh Kokosten. Dilarang mengambil gambar dan tulisan untuk keperluan pribadi atau dikomersialkan. Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Lomba Resensi Si Anak Badai. Pihak Republika Penerbit serta penulis Novel Si Anak Badai diperkenankan menggunakan konten ini untuk tujuan publikasi. Stay Positive and Keep Reading!