5 Tips agar Anak Menjadi Tangguh di Era Digital

Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas (98%) orangtua di Asia Tenggara yang memiliki anak usia 3-8 tahun memberikan izin si kecil untuk menggunakan gawai untuk belajar hal baru. Biasanya mereka menggunakan gawai yang mudah dioperasikan, seperti komputer, telepon pintar, maupun tablet. Kenyataannya, 72% dari anak itu menggunakannya untuk bermain game dan disusul menonton video. Bahkan tujuan utama dari pengenalan gawai untuk edukasi, ada di urutan ketiga. Lalu langkah apa yang harus diambil oleh orangtua? Apa bunda perlu melarangnya mengakses gawai lagi supaya tidak terkena dampak negatif? Atau ada cara lain supaya si kecil tangguh menghadapi era digital yang disruptif ini? Yuk simak pembahasan dan tips berikut ini..

Konsumsi Konten untuk Anak-Anak di Asia Tenggara

Persentase konten yang dikonsumsi oleh anak-anak usia 3 hingga 8 tahun
  • Games 72% 72%
  • Videos 60% 60%
  • Educational Apps 57% 57%
  • Books 14% 14%
  • Fun/cute apps 31% 31%
  • Don’t know 0% 0%
  • other 5% 5%
  • N/A 2% 2%
Sumber: Survey the Asian Parent Insight (2014)

Bila kita hendak menilik pesatnya produk/jasa seperti internet, tayangan TV, dan telepon pintar semuanya dilahirkan dari perkembangan pengetahuan teknologi yang inovatif. Semua pemilik produk/jasa berlomba-lomba pula untuk memiliki daya jangkau luas agar memperoleh segmen strategis dari pelanggannya. Tampilan aplikasi dibuat menarik dan mudah digunakan bahkan oleh anak kecil sekalipun. Kemudahan ini pula yang dilihat oleh orangtua untuk memberikan gawai ke putra putrinya. Harapannya si kecil mampu belajar dari suara dan visual yang menarik.

Alih-alih ingin mengedukasi anak, justru apabila tidak diawasi dengan baik akan menjadi bumerang. Tayangan yang baik akan memberikan dampak baik untuk anak, sebaliknya tayangan yang kurang mendidik akan merusak mental/psikis si kecil. Hal ini dibuktikan dengan aplikasi yang memberikan rekomendasi berdasarkan tingkah laku penggunanya, apa yang dia baca, dengar, maupun lihat. Teknologi canggih ini sudah sangat mungkin dengan bantuan machine learning.

Photo by Kelly Sikkema on Unsplash

Tayangan yang diberikan kelak akan memiliki pengaruh pada konsumen, mulai dari efek psikologis hingga praktis yang akan berujung pada aksi. Misalnya ada tayangan mengenai games terbaru yang memiliki konten kekerasan. Anak-anak yang menjadi target akan terpengaruh untuk mengunduhnya. Lama kelamaan akan ketagihan untuk mencoba hingga saatnya games meminta bayaran yang dikemas secara halus, contohnya koin virtual. Anak-anak akan berusaha untuk merengek agar keinginannya terpenuhi untuk kepuasan sesaat. Naasnya, dapat mengorbankan waktunya untuk berkomunikasi bersama orangtua dan lingkungan sekitarnya. Jelas ini akan memengaruhi perkembangan anak nantinya kedepan.

Kemajuan teknologi yang semakin pesat akan memberikan pengaruh kepada si kecil secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh langsungnya adalah anak yang memegang gawai akan menerapkan apa yang ia lihat sesuai dengan istilah “What you see is what you get”. Pengaruh tidak langsungnya adalah radiasi dari gadget dapat menyebabkan kerusakan tubuh yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan orang dewasa. Kok bisa ya? Tengkorak anak yang masih bertumbuh sehingga masih tipis juga jaringan otaknya yang lebih mudah menyerap. Banyak pakar yang sudah melakukan penelitian tentang efek radiasi kepada anak maupun orang dewasa yang menunjukkan ada kelainan jaringan dan metabolisme di saraf otak.

Tanda kecanduan gadget

Beberapa tanda anak mulai kecanduan gadget adalah sebagai berikut:
a. Suka menunda rutinitasnya (misal: makan, tidur, buang air kecil, dan sebagainya)
b. Suka berbohong dan mencari celah agar tidak ketahuan bermain gadget
c. Tidak suka aktivitas di dunia nyata karena keserun dunia maya
d. Mudah emosi
e. Pendiam dan susah berkomunikasi akibat jarang bersosialisasi

Beberapa sikap anak diatas menunjukkan tingkat kecanduannya. Semakin anak susah diatur dan menghindari aktivitas non-gadget, berarti mereka makin kecanduan. Mengubah kebiasaan bermain di dunia digital inilah yang sangat sulit, jadi lebih baik diatur sedemikian rupa supaya aktivitas anak di dunia maya tidak berlebih.

Apa yang harus dilakukan?

Hal yang mendukung perkembangan anak seharusnya tetap didukung dan dipertahankan. Pengaruh yang membuat daya kembang anak terhambat, seharusnya dicari sebabnya sehingga dapat dihindari. Oleh karena itu, berikut beberapa tips mendidik anak usia dini dalam era digital:

1. Menghadirkan Tuhan di kepribadian anak

Tentu yang pertama adalah menumbuhkan spiritualitas pada anak agar menjadi pondasi yang kokoh. Setiap agama mempunyai caranya masing-masing untuk menumbuhkan buah rohani pada dirinya masing-masing. Pondasi ini kelak menjadi dasar bagaimana anak bisa bersikap. Misalnya saja ketika memilah dan memilih konten. Semakin kuat pondasi rohani anak, semakin mudah pula si kecil menjauhi hal yang negatif. Kita sebagai orangtua hendaknya mendampingi tumbuh kembang anak di tahap pertama ini agar tidak salah arah. Nilai-nilai agama yang ditanamkan dapat menjadi benteng untuk menghindari pengaruh buruk dari derapan konten di internet maupun lingkungannya kelak.

2. Pola Asuh

Orangtua harus berusaha untuk dekat dengan anaknya supaya tidak lepas dari pengawasan. Posisi orangtua hendaknya jangan diktator dan hanya satu arah. Baiknya komunikasi dua arah dibiasakan agar bisa menjadi teman dekat bagi anaknya. Memposisikan diri sebagai teman mereka akan membuka pola diskusi yang efektif dan anak lebih terbuka dari segala permasalahannya. Kita perlu juga mengatur diri agar segala ucapan yang kita berikan membentuk anak lebih kuat dan memotivasi kehidupannya, bukan malah membuat mereka putus asa.

Media digital dapat digunakan untuk ajang edukasi si kecil bila dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh. Banyak aplikasi menarik untuk menambahkan kosa kata, pengetahuan angka serta lagu pada putra-putri kita. Media ini merupakan piranti sarana bukan sebagai pengganti orang tua. Orang tua perlu mengawasi dan berinteraksi dengan anak saat menggunakan piranti digital. Sebaiknya orangtua paham bahwa media digital ini seperti pisau bermata dua yang bisa menjadi baik bila dimanfatkan dengan benar. Sebaliknya akan merusak tumbuh kembang anak bila disalahgunakan.

3. What You See is What You Get

Anak suka melihat dan mempraktikkan apa yang ia lihat daripada yang ia dengar. Seberapa kalipun ia mendengar nasihat apa yang harus ia lakukan, mereka lebih suka mencontoh apa yang kita lakukan. Dasar itulah yang menyebabkan anak menjadi cerminan dari orangtuanya. Hal ini dapat dilihat ketika orangtuanya suka untuk bersedekah untuk membantu orang yang kurang beruntung. Dengan mencontohkan dan mengajarkan hal tersebut sejak dini, anak juga perlahan akan mengikuti jejak kita untuk suka berbagi. Mari bersama menjadi teladan bagi putra putri kita agar terbentuk gaya hidup dan tingkah laku yang sama-sama saling membangun.

Photo by S&B Vonlanthen on Unsplash

Photo by Sai De Silva on Unsplash

4. Membuat Kesepakatan

Era digital memang mempunyai dampak negatif yang sangat kejam. Namun bukan berarti kita harus menghindari dari terpaan teknologi. Anak bisa diberikan keleluasaan untuk menggunakan teknologi asal tetap bijak. Bijak disini artinya pandai dalam menyikapi konten, yang buruk dihindari dan yang baik dapat diterapkan di kehidupan sehari-hari. Orangtua bisa memberikan kesempatan pada anak untuk mencontoh dari teladan tokoh tertentu selama masih dalam batas positif. Oleh karena itu, penting bisa dekat dengan si kecil agar kita dapat terus membimbing menemukan jati dirinya.

Tak hanya itu, bijak dalam mengatur waktu juga perlu dijadikan acuan. Jangan sampai gawai membuat lupa waktu dan lupa lingkungan sekitarnya. Ajarkan anak untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya dan membatasi penggunaan barang elektronik di kehidupan sehari-hari. Justru hal ini yang harus dijadikan peraturan saat kita memperbolehkan penggunaan barang elektronik agar tidak timbul kecanduan. Kecanduan berlebih pada barang elektronik dapat mengakibatkan gangguan mental dan kemampuan untuk berkomunikasi.

Bukan sebatas membelikan handphone lalu selesai bisa bersantai ria. Mentoring bisa menjadi salah satu cara untuk mengemukakan cara penggunaan informasi dengan baik. Misalnya apa yang boleh diakses dan tidak boleh diakses. Mereka perlu tahu tata cara mengelola informasi yang benar serta rambu-rambunya. Selanjutnya dilakukan monitoring atau pengawasan dari penggunaan teknologi tersebut agar sejalan dengan kebenaran. Jadi, buat kesepakatan dengan si kecil sebelum terlambat ya Bunda dan Ayah. Usahakan agar si kecil tetap menikmati perkembangan teknologi tanpa ada tenanan yang berlebih ya..

 Oh ya, berkat teknologi pula kita dapat menggunakan fitur web-filtering untuk memudahkan pengaturan konten yang cocok untuk anak-anak. Fitur ini dapat membantu pengawasan akses konten agar dicocokkan dengan usia si kecil. Dari riwayat penelusuran pula, kita dapat melihat situs yang pernah dikunjungi dan melakukan evaluasi apakah si kecil pernah mengunjungi situs yang tidak sesuai dengan usianya.

5. Penanaman Karakter

Selain sisi rohani, karakter juga merupakan sesuatu yang penting untuk ditanamkan. Anak yang tidak memiliki karakter akan mudah terombang-ambing diterpa keterbukaan informasi. Keempat tips sebelumnya akan membentuk karakter yang kuat apabila anak terus dibimbing dan juga diberikan kesempatan untuk mengekspresikan apa yang ia pikirkan.

Interaksi di dunia digital dan dunia nyata juga perlu di seimbangkan. Orangtua bisa cerita mengenai pengalamannya kepada si kecil dengan kemasan menarik. Tak hanya aktivitas belajar, tapi bisa melalui aktivitas fisik agar seimbang. Aktivitas yang dapat menjadi pilihan adalah olahraga, bermain musik, mengenal bangun ruang, menjelajah alam, dan masih banyak aktivitas lainnya. Kemampuan motorik anak akan terasah juga diikuti dengan kecenderungan anak mengenali potensinya.

Mendidik anak di usia dini adalah menjadi fokus khusus karena sangat penting. Salah satunya dengan membiarkan mereka bersosialisasi bersama teman-teman sebayanya di institusi pendidikan anak usia dini. Institusi PAUD yang dapat menjadi pilihan utama kalian adalah Apple Tree Pre-School BSD yang memiliki kurikulum modern dan terintegrasi. Strategi yang diusung Apple Tree Pre-School BSD adalah “Perfect Education For Your Child” yang mengadopsi kurikulum dari Singapura. Tidak hanya mengutamakan kecerdasan anak, namun juga menumbuhkembangkan karakter tiap individu. Anak-anak usia 0-6 tahun inilah yang akan menjadi generasi emas untuk Indonesia kelak.

Tahukah kalian ada yang namanya golden age?

Golden age adalah masa dimana perkembangan anak sangat optimal. Pada umur 0-4 tahun, sel-sel otak mulai terbentuk sebanyak 50%, dilanjutkan penambahan 30% hingga umur 8 tahun, dan sisanya akan dipenuhi dari pengalaman si kecil sampai memasuki usia 18 tahun[1]. Masa inilah yang harus diselamatkan dari arus negatif era digital. Dengan memilih institusi PAUD yang tepat dapat membantu peran orangtua dalam memberdayakan kemampuan si kecil.

Apple Tree Pre-School BSD memiliki 5 jenjang kelas untuk anak usia 1,5 sampai 6 tahun. Institusi ini telah berkomitmen dan menyadari pentingnya penyikapan di era digital ini terhadap tumbuh kembang anak. Kelas ini juga diprogram agar sesuai dengan perkembangan berdasarkan pada kekuatan, kebutuhan dan kemampuan anak-anak.

Toddlers (2x/minggu)

Umur: 1,5 – 2 tahun & Kapasitas kelas: 12 orang

Toddlers (3x/minggu)

Umur: 1,5 – 2 tahun & Kapasitas kelas: 12 orang

Pre-Nursery

Umur: 2-3 tahun & Kapasitas kelas: 16 orang

Nursery

Umur: 3-4 tahun & Kapasitas kelas: 20 orang

Kindergarten 1

Umur: 4-5 tahun & Kapasitas kelas: 20 orang

Kindergarten 2

Umur: 5-6 tahun & Kapasitas kelas: 20 orang

Nah, Apple Tree Pre-School BSD mau mengadakan open house “Apple’s Neighbourhood” nih. Jadi acaranya bakal seru banget karena ada acara yang menyenangkan, permainan dan kompetisi yang bisa diikuti oleh tiap keluarga.

Acaranya pada hari Sabtu, 7 September 2019

Waktu: 08.00-11.00 WIB

Lokasi: Gedung EduCenter lantai 7 Jl. Sekolah Foresta No 8, BSD City, Lengkong Kulon, Kec. Pagedangan, Tangerang, Banten 15331

Info lebih lanjut, hubungi: 021-300-1083

Update 1 September 2019!

Dapatkan kesempatan diskon 50% (biaya pendaftaran) untuk kelas Toddler and K2.

Yuk pada ikutan supaya bisa lebih dekat dan lebih kenal dengan Apple Tree Pre-School BSD. Bisa dapat diskon menarik juga loh. Jangan lupa datang ya ^^

Kesimpulan

Orangtua perlu menghadirkan Tuhan di kepribadian anak, mengevaluasi pola asuh, memberikan teladan yang baik, membuat kesepakatan, dan menanamkan karakter untuk mendidik  anak usia dini di era digital. Mari bersama membuat anak menjadi tangguh di era digital karena mereka tulang punggung pembangunan bangsa 25 tahun mendatang.

Demikian postingan kali ini, mohon maaf kalau ada salah kata. So, stay positive and keep traveling! Sampai jumpa di postingan berikutnya. Babai~~

Referensi

[1] L. Uce, “The Golden Age: Masa Efektif Merancang Kualitas Anak,” Bunayya J. Pendidik. Anak, vol. 1, no. 2, pp. 77–92, 2017.

Sumber gambar: Ilustrasi pribadi, Website Apple Tree BSD dan Unsplash. 

Penulis sudah membagikan artikel ini melalui media sosial Facebook pribadi dan Instagram @kokosten #appletreebsd